Tidak mudak untuk sama sekali tidak punya musuh. Zero enemy? kayaknya almost impossible deh. Apalagi menjadi seorang pimpinan. Memiliki warga atau rakyat yang banyak. Masing-masing memiliki keinginan sendiri-sendiri. Pimpinan mengambil langkah A, kelompok B tidak setuju, pimpinan mengambil langkah B, kelompok C juga tidak setuju.
Lalu bagaimana seorang pimpinan harus bersikap? Ya menurut amanah yang diberikan kepadanya. Kalau seorang kepala negara, berarti pelaksanaan sesuai UU atau peraturan, kalau seorang ulama, sesuai dengan apa yang tertulis di Al Qur’an dan Hadist.
Mungkinkah Zero enemy? Sekarang kita coba tanya. Seorang ulama berdakwah di kampung untuk meninggalkan judi dan miras. Apakah semua orang akan setuju dan menyukainya? Tergantung, jika ada segelintir orang yang masih belum insyaf, maka ada kemungkinan ulama tersebut akan dianggap sok agamis dan sok suci.
Memang seorang pimpinan harus punya jiwa keikhlasan yang tinggi. Rela dicaci dan dimaki, di paido(bhs jawa=di cemooh), padahal dia merasa sudah berbuat yang terbaik. Bagaimana dengan anda?
note: sekedar pendapat pribadi, tidak mengkritik atau mencela pimpinan manapun, karena memang tidak mudah jadi pimpinan

nice info…thanx for share
Kritik tidak berarti musuh juga … namun ciri2 musuh seorang pemimpin adalah ketika pemimpin sudah melakukan perbaikan malah dicela. Yang jadi masalah adalah pemimpin yang hanya janji untuk melakukan perubahan tapi hanya sebatas janji, itu yang harus terus didorong untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Biar yang dipimpinnya juga ikut membaik
Trims mas … Nice post
matur nuwun mas

Pemimpin yang hanya berjanji tinggal janji adalah contoh pemimpin yang tidak memegang amanah
Seperti itulah hidup berjalan…
ada siang ada malam
ada hitam ada putih
ada panas ada dingin
ada gula ada semutada pro ada kontra
tak peduli
siang atau malamnya
hitam atau putihnya
panas atau dinginnya
pro atau kontranya
sing penting ikhlas toh mase ???
nuwun injih kangmas
hambatan dalam kehidupan selalu ada dan tidak bisa terlepas